USBN Nyaris Makan Korban, Siswa SMK Coba Bunuh Diri

USBN Nyaris Makan Korban, Siswa SMK Coba Bunuh Diri

USBN Nyaris Makan Korban, Siswa SMK Coba Bunuh Diri
USBN Nyaris Makan Korban, Siswa SMK Coba Bunuh Diri

Seorang siswi kelas XII SMK N 3 Kota Padang Sidimpuan berinisial AN

(19) mencoba melakukan aksi bunuh diri dengan menegak racun tanaman. Aksinya ini diduga dilakukan lantaran tertekan setelah dipanggil oleh gurunya akibat status di akun facebook.

AN dan dua temannya IA dan R sebelumnya merasa mendapat intimidasi dari oknum gurunya yakni, Ey, KS, dan FO yang menyampaikan ancaman hukuman penjara UU IE yang bisa menimpa mereka. Para guru ini menyebut ancaman hukuman penjara selama 4 tahun disertai kata-kata “penjara aja orang itu selama 4 tahun biar terus mampus”. Bahkan AN dan dua temannya ditakuti harus membayar denda di pengadilan sekitar Rp 750 juta.

Hal itu berawal dari ID yang mengaku membuat status di jejaring sosial facebook

miliknya mengenai adanya aksi kecurangan saat ujian sekolah berstandar nasional (USBN) berlangsung beberapa waktu lalu. Status FB tersebut terkait dengan dugaan salah seorang siswa yang merupakan anak guru dibantu dalam pelaksanaan USBN.

“Waktu USBN anak ibu itu (E) sama kawan-kawannya dikasih kunci jawaban. Sedangkan yang lain tidak,” tulis ID dalam akun facebooknya.

Usai pemanggilan tersebut, AN pun shock. Tanpa fikir panjang, usai dirinya mengganti seragam sekolah di kediamannya kemudian bergegas ke warung guna membeli pembasmi hama rumput. Setelah pembasmi tersebut ditangannya, AN pun kemudian pergi kebelakang musalah yang berjarak berkisar 100 meter dari kediamannya. Sesampainya di lokasi, AN menegak pembasmi hama tersebut. Beruntung aksinya tersebut diketahui warga hingga AN dilarikan ke RSUD Kota Padang Sidempuan guna mendapat perawatan intensif.

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti menilai tindakan

oknum guru tersebut tak layak dilakukan. Tindakan mereka justru dapat diancam oleh UU perlindungan anak.

“Padahal ada jerat hukum bagi oknum guru tersebut sebagaimana diatur dalam Udang-undang No. 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Pasal 76A mengenai perbuatan diskriminasi terhadap anak, dan pasal 76C jo pasal 80 mengenai kekerasan terhadap anak. Selain itu ada pasal 335 ayat 1 kesatu KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan, dan pasal 1365 KUHperdata yaitu perbuatan melawan hukum,” terang Retno.

 

Baca Juga :