Prof Tavio, Pakar Sipil ITS Gagas Bangunan Tahan Gempa

Prof Tavio, Pakar Sipil ITS Gagas Bangunan Tahan Gempa

Prof Tavio, Pakar Sipil ITS Gagas Bangunan Tahan Gempa
Prof Tavio, Pakar Sipil ITS Gagas Bangunan Tahan Gempa

Gempa kerap menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat Indonesia.

Bangunan kuat pun diciptakan sebagai langkah antisipasi. Namun, tidak ada yang tahu sampai di mana batas kekuatannya. Untuk itu, Prof Tavio menawarkan solusi lain. Bangunan tahan gempa.

KUAT dan tahan mempunyai pengertian berbeda. Kata kuat mengacu pada besarnya daya untuk bisa menampung sebuah beban. Terkait gempa, para ahli membuat konsep bangunan kuat berdasar sejarah gempa yang pernah terjadi.
Prof Tavio, Pakar Sipil ITS Gagas Bangunan Tahan Gempa
Tentang Prof Tavio (Grafis: Rizky Janu/Jawa Pos/JawaPos.com)

Hingga saat ini, belum ada penelitian atau alat yang bisa memprediksi dengan tepat berapa kekuatan gempa yang akan terjadi. Karena itu, ukuran kekuatan bangunan juga belum bisa dipastikan.

Begitu pula waktu kedatangan gempa. Tidak ada yang tahu kapan pastinya gempa

akan terjadi. Padahal, kekuatan bangunan bisa menurun setiap waktu. Seandainya gempa terjadi 100 tahun kemudian, belum tentu kekuatan bangunan masih sama seperti awal berdiri.

Bangunan kuat mengandung nilai investasi yang cukup tinggi. Untuk daerah dengan potensi gempa besar, tentu konsep kuat itu sangat bermanfaat. Namun, di daerah yang berpotensi gempa tetapi jarang terjadi, pembuat bangunan bisa saja merugi. ”Lalu, kenapa membangun gedung yang kuat, tapi kita sendiri tidak tahu sampai di mana kekuatannya menahan gempa?” kata Prof Tavio.

Karena itu, guru besar ke-106 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

tersebut mencari solusinya. Yakni, dengan membuat beton tahan gempa. Penelitian itu mengembangkan konsep yang sudah ada tentang bangunan tahan gempa. Tahan dalam arti tetap berdiri dan tidak roboh meski mengalami kerusakan akibat guncangan kuat. Nilai investasi konsep tersebut lebih rendah daripada bangunan kuat.

Konsep yang dikembangkan ayah dua anak itu menggunakan bahan-bahan yang bersifat daktail dalam struktur bangunan. Mengenai daktail, alumnus S-1 dan S-2 ITS itu menganalogikannya dengan karet. Dia menjelaskan, karet memiliki kekuatan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kaca. Namun, kaca bisa pecah jika diberi beban berat. Sementara itu, karet tidak.

Baja merupakan bahan daktail. Sayang, harganya cukup mahal. Selain itu, perawatannya sulit karena baja termasuk logam korosi tinggi (mudah berkarat). Ketika terjadi kebakaran, logam tersebut juga gampang memuai dan nilai kekuatannya turun.

Sementara itu, bahan yang cukup murah dan mudah perawatannya adalah beton.

Masalahnya, beton tidak bersifat daktail. Di situlah penelitiannya berlanjut.

Beton daktail didapat melalui pengaruh tulangan baja di dalamnya. Baja tulangan harus punya kemampuan ulur sesuai standar nasional Indonesia (SNI). ”Tersulur terus tidak apa-apa, asal tidak putus,” tegas peraih predikat lulus cum laude dengan IPK sempurna 4 program doktoral Nanyang Technological University, Singapura, itu.

Kemudian, dia membuat teknologi confinement (pergelangan) yang mengikat batang tulangan longitudinal. Pengekangan yang semakin rapat membuat ketahanannya semakin kuat. ”Jadi, kalau ada gempa, kolom ini tidak buyar,” imbuh guru besar yang dikukuhkan pada Juni 2013 itu.

Ketua pengembangan SNI Beton 2017 tersebut menambahkan, bukan gempa yang mengakibatkan kematian. Tapi, karya manusia itu sendiri. Karena itu, di Jepang dan Amerika Serikat selalu ada meja besar di dalam rumah. Gunanya untuk berlindung ketika ada gempa. Apalagi, warga yang tinggal di lantai atas gedung tinggi.

Bangunan tahan gempa memang dirancang untuk tidak runtuh meski mengalami guncangan besar. Harapannya, potensi selamat orang yang berada di dalam bangunan itu lebih tinggi. Meski potensi kecelakaan tetap bisa terjadi karena kerusakan benda dan perabotan di dalamnya

 

Baca Juga :