PERTANYAAN SEKTOR RIIL DAN MONETER

PERTANYAAN SEKTOR RIIL DAN MONETERPERTANYAAN SEKTOR RIIL DAN MONETER

 bagaimana hubungan keterikatan antara sektor riil da sektor moneter jika salah satu sektor tidak berjalan dengan baik?

Teori Keynes Membahas hub. antara sektor riil dengan sektor moneter yang ditunjukkan melalui hubungan – hubungan sbb :
1. Ms dan Md dalam masyarakat menentukan tingkat bunga yang berlaku
2. Tingkat bunga yang berlaku menentukan tingkat investasi masyarakat
3. Tingkat Investasi bersama-sama faktor penentu income lainnya akan menentukan tingkat pendapatan.
-Keynes berpendapat : sektor riil dipengaruhi oleh C,I,G dan T. Sektor moneter hanya dapat mempengaruhi saktor riil melalui perubahan r akibat perubahan Ms diteruskan reaksi investasi karena perubahan r, Bila kondisi tersebut tidak dipenuhi maka sektor moneter tidak ada pengaruh terhadap sektor riil.
– Pengaruh perubahan Jumlah uang beredar terhadap sektor riil berjalan tidak langsung yaitu melalui mekanisme peruahan tingkat bunga dan investasi lebih dahulu.
– Teori permintaan uang Keynes didasri oleh Mt (motif transaksi), dan Msp (motif spekulasi) dengan memperhitungkan adanya ketidak pastian masa depan yang menyebabkan timbulnya peranan ekspektasi dalam permintaan uang.

apa faktor penghambat investasi yang ada di sektor riil?

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan faktor-faktor penghambat investasi di

Provinsi Lampung, antara lain :

  1. a)Keamanan dan kepastian hukum:
  2.  Kerangka hukum dan peraturan investasi masih lemah.
  3. Kurang penjelasan, penyuluhan, bimbingan atas pemahaman dan penerapan hukum dan perundang-undangan, khususnya dalam kegiatan investasi.
  4.  Kurang tegasnya dan konsistensinya sanksi hukum atas pelanggaran hukum.
  5. Kurangnya penerapan sanksi hukum untuk menjamin kepastian berusaha pada proyek investasi besar (masalah pertanahan).
  6. b)Konflik atas lahan (keagrariaan): kurang adanya ketegasan dari pihak berwenang dalam menangani kasus tanah.
  7. c)Kualitas infrastruktur dan dukungan kebijakan:
  8. Fasilitas infrastruktur jalan, listrik, dan air belum sepenuhnya mendukung.
  9. Tumpang tindihnya kewenangan instansi teknis dalam pengambilan kebijakan
  10. d)Prosedur perijinan memulai usaha yang harus melalui banyak prosedur.
  11. e)Investasi Sumberdaya Manusia ( human investment).
  12. f)Permasalahan ketenagakerjaan: kurang tenaga terampil.
  13. g)Intermediasi perbankan terhadap dunia usaha belum optimal.
  14. h)Dukungan pembiayaan pada sektor pertanian dan UKM.
  15. Safety player perbankan: perbankan belum fokus ke sektor-sektor riil.
  16. Bagaimana pengaruh krisis keuangan yang terjadi didunia terhadap sektor riil?

Pencapaian target dalam sektor riil yaitu mendorong pertumbuhan total produksi perekonomian merupakan salah satu ultimate target dari kebijakan moneter, yang secara operasional ditempuh lewat sasaran antara yaitu tingkat suku bunga dan nilai tukar.

Pengaruh krisis ekonomi terhadap beberapa indikator makro ekonomi utama secara umum menunjukkan pergerakan pada level yang kurang menguntungkan (adverse movements) terutama pada periode setelah datangnya krisis yaitu paruh kedua 1997 hingga periode 1998. Nilai tukar rupiah pasar spot harian menunjukkan penurunan yang semakin tajam terutama sejak sistem band intervensi dihapus digantikan dengan sistem pasar murni (lihat grafik dibawah). Penurunan nilai kurs yang cukup cepat dan besar tersebut menjadi sulit diantisipasi oleh sektor usaha yang selama ini secara konsisten mendasarkan transaksi keuangan non-rupiah pada tingkat depresiasi rupiah yang relatif stabil.

Sehubungan dengan datangnya krisis moneter pertumbuhan produksi riil sektorsektor perekonomian telah menunjukkan penurunan. Hal ini diduga dipengaruhi oleh tingkat resistensi sektor riil yang rendah disamping karena faktor non ekonomi lainnya. Sektor-sektor yang selama ini memiliki pangsa cukup besar dalam PDB seperti sektor industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, bangunan, dan keuangan telah mengalami kontraksi sehingga mengakibatkan pertumbuhan 1997 dan estimasi 1998 secara agregat menurun.

Krisis keuangan global yang berdampak terhadap kondisi perekonomian global semula diperkirakan tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Namun, pada awal triwulan IV-2008 dampak krisis mulai dirasakan oleh dunia usaha dengan ditandai oleh melemahnya permintaan akan produk-produk ekspor, menurunnya beberapa harga komoditas internasional, ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD. Sebagai dampak lanjutan dari memburuknya kondisi dunia usaha, beberapa perusahaan telah dan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja antara lain pada industri tekstil, industri baja, industri pulp & paper, industri elektronik, industri otomotif, dan industri plastik. Untuk memperoleh gambaran mengenai dampak krisis ekonomi global terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 dilakukan Survei Khusus Sektor Rill (SKSR) dengan topik “Dampak Krisis Ekonomi Global terhadap Sektor Riil” terhadap 80 perusahaan yang berada pada sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, bangunan, perdagangan, hotel, & restoran dan transportasi & komunikasi.