Pentingnya Pendidikan Ketahanan Bencana Bagi Penguatan Karakter Siswa

Bencana alam yang melanda Indonesia belakangan ini menciptakan sebagian murid tidak dapat mengekor proses belajar melatih secara efektif. Bagi itu, dibutuhkan pola pembelajaran yang berbentuk dasar-dasar kemampuan hidup atau basic of life skills untuk siswa, salah satunya tentang pendidikan keawetan terhadap bencana supaya siswa tetap termotivasi guna menimba ilmu pasca terdampak musibah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, menjelaskan, pendidikan keawetan bencana yang dimasukkan ke dalam kurikulum tidak berupa mata latihan khusus. “Nanti satu paket di dalam Penguatan Pendidikan Karakter, dan masih terbuka bila ada urusan tertentu yang masih mesti masuk, akan anda masukkan. Kita usahakan mulai tahun doktrin 2019. Tetapi ini bukan mata pelajaran, namun tema-tema yang terintegrasi,” ujar Mendikbud, laksana yang dikutip dari kemdikbud.go.id.

Saat ini Kemendikbud sudah menyiapkan lima paket modul berhubungan isu-isu terkini yang perlu diserahkan kepada murid di sekian banyak jenjang. Di antaranya modul mengenai bahaya narkoba, mencegah radikalisme, kesadaran hukum selesai lintas, edukasi antikorupsi, dan edukasi mitigasi bencana.

Kelima modul itu tidak bakal menjadi mata latihan khusus, tetapi akan diintegrasikan ke dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dapat diserahkan tidak melulu melalui intrakurikuler, tetapi pun melalui kokurikuler dan ekstrakurikuler.

“Terutama guna membekali siswa supaya mereka mempunyai pengetahuan dan kemampuan hidup tertentu supaya mereka bisa menjadi penduduk negara yang baik,” kata Muhadjir.

Secara teknis, tutur Mendikbud, pendidikan keawetan bencana bakal diintegrasikan dalam pekerjaan belajar melatih tanpa melewati mata latihan khusus. Tentunya pelajaran yang disajikan dicocokkan dengan tingkat dan jenjang pendidikan.

“Proses belajar melatih dapat dibuat seluwes mungkin, dengan rentang masa-masa yang cukup. Guru diserahkan keleluasaan untuk menata jam belajar lebih luwes. Sehingga penguatan edukasi karakter yang di antara paketnya ialah memberikan informasi dan kemampuan hidup tertentu tersebut dapat berjalan,” tuturnya.

Berdasarkan keterangan dari Muhadjir, edukasi bersangkutan keawetan terhadap bencana memerlukan keterlibatan seluruh pihak, baik sekolah, orang tua, masyarakat, maupun kementerian/lembaga lain. Sebelumnya Kemendikbud telah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam penyusunan modul dan pemberian pelatihan kemampuan hidup.

“Sekolah atau guru pun harus terdapat kerja sama dengan BNPB. Jadi sebetulnya cukup sejumlah kali pertemuan. Kita lihat, mana yang lumayan dengan pemberian informasi dan pengetahuan, dan mana yang butuh dibekali kemampuan atau kemampuan khusus laksana kebencanaan. Itu (pendidikan kebencanaan) butuh ada kemampuan khusus yang diajar ke siswa,” kata Mendikbud.

Saat ini Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbangdikbud) bareng dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) sedang mengerjakan pemetaan kompetensi dasar pada tema-tema di sekian banyak jenjang guna memperkuat materi keawetan bencana yang ada.

Kepala Balitbangdikbud Totok Suprayitno mengucapkan bahwa yang menjadi target pendidikan keawetan bencana ialah perubahan perilaku. Maka dibutuhkan praktik, simulasi, dan pembiasaan, bukan sekadar ceramah untuk peserta didik.

“Kurikulum dapat dilakukan sebagai proses belajar dalam keseharian. Tidak mesti dilaksanakan sebagai mata pelajaran, tetapi contohnya dalam satu semester bisa dibuat sejumlah kali pertemuan guna mengenalkan, mengingatkan anak-anak berhubungan bencana, risikonya dan mitigasinya,” ujarnya.

Salah satu modul yang telah disiapkan Kemendikbud melewati Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) dan berkolaborasi dengan BNPB ialah Modul “Pendidikan Tangguh Bencana: Mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana di Indonesia”.

Sumber : studybahasainggris.com