Metode penenntuan awal bulan qomariyyah yang digunakan muhammadiyah

Menurut Muhammadiyah ada empat cara atau metode untuk mengetahui datang dan berakhirnya bulan Ramadhan, yang sekaligus merupakan sumber pengetahuan seseorang tentang datang dan berakhirnya bulan Ramadhan. Keempat cara tersebut adalah: pertama, terlihatnya hilal (rukyah), kedua, kesaksian orang yang adil, ketiga, menyempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari (istikmal) apabila cuaca berawan atau mendung, keempat, hisab. Jika seseorang melihat langsung hilal atau menerima kesaksian orang yang adil tentang kesaksian orang yang adil tentang terlihatnya hilal, atau setelah menyempurnakan umur bulan Sya’ban tiga puluh hari karena tidak dapat melihat hilal, atau berdasarkan hisab, maka orang tersebut telah dianggap menyaksikan atau mengetahui masuknya bulan Ramadhan. Dengan terpenuhinya salah satu saja, apalagi kalau lebih dari satu, dari empat alternatif tersebut maka bulan Ramadhan dinyatakan telah datang atau berakhir.

Alternatif pertama dan kedua hakekatnya sama yaitu terlihatnya hilal. Perbedaan keduanya terletak pada langsung atau tidaknya pengetahuan tentang datangnya bulan Ramadhan itu diperoleh dari sumber pertamanya. Pada yang pertama pengetahuan itu diperoleh secara langsung dari sumber pertamanya. Sedangkan pada yang kedua pengetahuan itu tidak langsung dari sumber pertamanya akan tetapi dari sumber kedua dan seterusnya. Dengan demikian, yang pertama dan yang kedua hakekatnya sama yaitu bahwa pengetahuan tentang datang dan berakhirnya bulan Ramadhan diperoleh dengan terlihatnya hilal. Alternatif yang ketiga sesungguhnya merupakan pengganti atau lebih tepat sebagai jalan keluar dari alternatif pertama, karena gagal memperoleh pengetahuan tentang datangnya dan berakhirnya bulan Ramadhan melalui sumber yang pertama. Dari sisi ini ia termasuk pada jenis sumber yang pertama, akan tetapi substansinya adalah hisab, karena jelas berupa perhitungan, yaitu menghitung umur bulan yang sedang berlangsung 30 hari.

Alternatif keempat adalah hisab. Hisab ini sebagai sumber pengetahuan tentang datang dan berakhirnya bulan Ramadhan, dan bukan merupakan jalan keluar dari yang sebelumnya melainkan berdiri sendiri. Oleh karena itu, pada dasarnya cara atau metode untuk mengetahui datang dan berakhirnya bulan Ramadhan itu ada dua, yaitu pertama terlihatnya hilal (rukyah) dan kedua, hisab. Keduanya diberlakukan baik untuk bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya dalam tahun Qamariyah.[25]

Rukyah dan hisab sebagai metode untuk mengetahui datang dan berakhirnya bulan Ramadhan dikukuhkan lagi dengan pernyataan “berpuasa dan ‘idul fitri itu dengan rukyah dan berhalangan dengan hisab”. Pernyataan yang merupakan hasil keputusan Musyawarah Tarjih tahun 1932 ini menunjukkan bahwa pada prinsipnya pengetahuan tentang datangnya bulan Ramadhan dan Syawal itu diperoleh melalui rukyat. Akan tetapi rukyah bukan satu-satunya, sebab bisa juga melalui hisab. Rukyah dan hisab masing-masing dapat berdiri sendiri sebagai metode untuk mengetahui datangnya bulan Ramadhan dan Syawal.

Rukyah artinya melihat hilal pada saat terbenam Matahari, sedangkan yang dimaksud dengan hisab adalah perhitungan mengenai posisi hilal. Persoalannya sekarang adalah apa yang dimaksud dengan hilal itu. Secara astronomis, hilal (crescent) itu adalah penampakkan bulan yang kecil yang menghadap ke bumi. Keadaan ini dicapai beberapa  saat setelah ijtimak, karena saat itu sudut pandang Matahari dan Bulan paling kecil. Bagi Muhammadiyah, debgan demikian, pertanda datangnya bulan baru atau awal bulan Qamariyah itu adalah wujudnya hilal atau adanya hilal, dan wujudnya hilal itu dapat diketahui baik melalui rukyah atau hisab, atau melalui keduanya sekaligus. Kesimpulan ini diperoleh dari pernyataan yang berbunyi”apabila ahli hisab menetapkan bahwa bulan belum wujud   atau sudah wujud tetapi tidak mungkin dilihat”pernyataan ini juga bahwa yang dimaksud dengan hisab atau perhitungan posisi hilal itu adalah perhitungan tentang wujudnya hilal.

Sumber :

https://deevalemon.co.id/facebook-minta-selfie-untuk-login/