Mahasiswa ITS Gunakan Jamur Untuk Degradasi Limbah Medis Plastik

Mahasiswa ITS Gunakan Jamur Untuk Degradasi Limbah Medis Plastik

Mahasiswa ITS Gunakan Jamur Untuk Degradasi Limbah Medis Plastik
Mahasiswa ITS Gunakan Jamur Untuk Degradasi Limbah Medis Plastik

Limbah plastik menjadi masalah serius, yang mengancam kelestarian lingkungan hidup, hewan dan manusia di dalamnya. Sejumlah mahasiswa ITS melakukan penelitian dan menemukan kombinasi jamur untuk mengurai sampah plastik, khususnya limbah plastik medis.
SURABAYA (VOA) —

Limbah medis menjadi persoalan serius pengelola rumah sakit, puskesmas maupun klinik kesehatan, karena tidak semua fasilitas layanan kesehatan ini memiliki sarana pengolahan limbah medisnya. Limbah medis berupa plastik infus dan suntikan, banyak terbuang tanpa penanganan yang baik dan aman karena sering ditemukan bercampur dengan sampah domestik lainnya.
Mahasiswa ITS Gunakan Jamur Untuk Degradasi Limbah Medis Plastik
Embed share
Mahasiswa ITS Gunakan Jamur Untuk Degradasi Limbah Medis Plastik
by VOA Indonesia
Embed share
The code has been copied to your clipboard.
The URL has been copied to your clipboard

Teruskan di Facebook
Teruskan di Twitter

No media source currently available
0:00 2:43
0:00
Unduh

Mahasiswa Departemen Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Anne Dwi Tsamarah mengatakan, dirinya bersama dua rekannya mengembangkan cara mendegradasi limbah medis padat yang menumpuk setiap tahunnya, dengan menggunakan kombinasi jamur Aspergillus oryzae dan Trichoderma viride sebagai solusinya.

“Kalau untuk prosesnya kami pertama adalah mendapatkan limbah medis padatnya terlebih dahulu, kemudian kami mempersiapkan jamurnya mulai dari regenerasi hingga membuat kultur padat hingga kultur cairnya. Kemudian setelah jamurnya tumbuh, maka kami akan menggunakan jamur itu untuk mendegradasi limbah medis padat tersebut,” kata Anne Dwi Tsamarah.
/**/ /**/ /**/ Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melihat tumpukan sampah kertas impor dari negara-negara di Eropa, di lokasi penimbunan milik pabrik kertas Pakerin di Kabupaten Mojokerto, 19 Juni 2019. (Foto: Petrus Riski/VOA)
BACA JUGA:

Jatim Minta Industri Kertas Pastikan Bahan Baku Bebas Sampah Plastik

Limbah plastik infus dipilih sebagai salah satu bahan yang diuji coba karena jumlahnya yang cukup banyak, namun penangananya lebih banyak dengan memanaskan dengan suhu tinggi.

Adi Setyo Purnomo, selaku dosen pembimbing di Departemen Kimia ITS mengatakan, penggunaan kombinasi dua jamur yaitu Aspergillus oryzae dan Trichoderma viride bila berhasil akan dapat membantu penanganan limbah plastik secara umum, terutama dengan masuknya sampah plastik impor yang sedang menjadi perhatian nasional.

“Infus ini paling banyak sehingga kita putuskan kita ambil infusnya dulu. Jadi, botol infus kita coba untuk degradasi, sekaligus masalah plastik juga sedang menjadi masalah yang besar. Jadi, sekaligus kita sekalian menguraikan limbah medis juga sekalian limbah plastik,” kata Adi Setyo Utomo.
Proses inkubasi kombinasi dua jamur sebelum dipakai mendegradasi limbah plastik medis. (Foto:Petrus Riski/VOA)
Proses inkubasi kombinasi dua jamur sebelum dipakai mendegradasi limbah plastik medis. (Foto:Petrus Riski/VOA)

Anne Dwi Tsamarah bersama dua rekannya yaitu Lely Dwi Astuti dan Ulfa Miki Fitriana yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa menyebut penggunaan kombinasi dua jamur cukup efektif mendegradasi limbah plastik medis, meski penelitian yang dilakukannya masih terus dikembangkan agar lebih optimal. Pada uji laboratorium yang dilakukan hingga delapan minggu, terjadi pengurangan massa limbah plastik hingga 40 persen.

“Terdapat pengurangan massa memang, dari setiap minggunya i

tu massa yang berkurang semakin bertambah (banyak), namun memang pada titik waktu tertentu jumlah (plastik limbah medis) yang terdegradasi juga semakin menurun, kenapa, karena masa hidup jamur itu juga ada waktunya,” lanjutnya.
/**/ /**/ /**/ Sampah plastik kemasan produk dari luar negeri yang diambil dari sejumlah tempat pembuangan sampah plastik di Jawa Timur, Juni 2019.(Foto: Petrus Riski/VOA)
BACA JUGA:
Jatim Desak Pemerintah Pusat Revisi Aturan Impor Limbah

Adi Setyo Purnomo menambahkan, metode biodegradasi ini

telah terbukti mampu memecah senyawa berbahaya seperti plastik, yang sangat berbahaya bagi lingkungan bila dibiarkan dibuang sembarangan atau tanpa diproses secara aman.

“Biodegradasi itu merupakan proses untuk memecah senyawa-senyawa yang berbahaya menjadi senyawa yang lebih sederhana atau menjadi yang tingkat toksisitasnya menjadi lebih berkurang, dengan menggunakan mikroorganisme. Jadi pada dasarnya kita menggunakan bakteri atau bisa menggunakan jamur, kemudian bisa kombinasi dari keduanya,” imbuh Adi

 

Sumber :

https://www.behance.net/ojelhtcman4fb2