Kriteria Wujudul Hilal

Ragam kriteria untuk menentukan masuknya bulan baru Qamariyah semakin berkembang dan masing-masing memperoleh pendukungnya. Para ahli hisab di tanah air pun terbagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan kecenderungan dalam memegangi kriteria awal bulan tersebut, sehingga  nyaris menjadi aliran-aliran dalam penentuan awal bulan Qamariyah. Muhammadiyah memilih wujudul hilal sebagai pedoman penentuan awal bulan dengan kriteria :

  1. Ijtimak terjadi sebelum terbenam Matahari

  2. Terbenam Matahari lebih dulu dari terbenam Bulan

Dengan perkataan lain, pada saat terbenam Matahari setelah terjadi ijtimak bulan sudah di atas ufuk.

Berdasarkan kriteria di atas maka langkah yang di tempuh oleh Muhammadiyah dalam hisabnya adalah:

  1. Menghitung saat terjadinya ijtimak
  2. Menghitung saat terbenam Matahari untuk suatu atau beberapa tempat tertentu
  3. Menghitung tinggi hilal pada saat terbenam Matahari ditempat tertentu itu

Perhitungan tinggi hlal ini sebenarnya perhtungan posisi tepi piringan atas Bulan relatif terhadap ufuk. Demikian,karena yang dipentingkan adalah apakah Bulan sudah terbenam atau belum pada saat Matahari terbenam, bukan tinggi hilal itu sendiri.

Dengan konsep wujudul hilal tersebut diatas, berarti ukuran yang dijadikan pembatas terbenam itu adalah ufuk mar’i.[26]

  1. Alasan muhammadiyah hanya menggunakan hisab tanpa rukyah

Argumen muhammadiyah dalam berpegang kepada hisab seperti yang disampaikah prof.dr.syamsul anwar, M.A. berikut:

Pertama: semangat al-Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. 55:5) ayat ini bukan sekedar meinformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti, tetapijuga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS. Yunus(10) ayat 5 di sebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Kedua: jika spirit al-Qur’an adalah hisab, mengapa rasulullah menggunakan ru’yah? Menurut rasyid ridha dan mustafa az-zarqa, perintah melakukan ru’yah adalah perintah berillat (beralasan) illatnya adalah karena ummat nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca dan tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini di tegaskan rasulullah SAWdalam hadist riwayat al-Bukhari dan Muslim, “sesungguhnya kami adlah ummat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan dan kadang-kadang tiga puluh hari.” Dalam kaidah fiqhiya dalam kaidah fiqhiyyah, jika illat tidak ada , maka perintah (unruk ru’yah) tidak berlaku lagi.

Ketiga: rukyah tidak bisa menyatuka awal bulan islam secara global. Sebaliknya, rukyah memaksa umat islam berbeda memulai awal bulan-bulan ibadah. Hal ini karna rukyah pada vasibilitas pertama tidak meng-cover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada permukaan bumi yang tidak dapat merukyat. Kawasan tidak normal, dimana tidak melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulantelah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

Sumber :

https://khasanahkonsultama.co.id/jestro-ag60-anggur-tanpa-biji-dari-balitbang-pertanian/

[27]