Kasus narkoba coreng wajah pendidikan

Kasus narkoba coreng wajah pendidikan

Terungkapnya berbagai kasus narkoba dilakukan oleh oknum pelajar

dan mahasiswa ternyata sempat mencoreng predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar.

Hal itu pula yang menjadi alasan utama merosotnya minat masyarakat luar untuk kuliah di Yogyakarta. “Pemberitaan mengenai peredaran narkoba di Yogyakarta sempat mengguncang dunia pendidikan kita,” kata Koordinator Kopertis Wilayah V Bambang Supriyadi, di Yogyakarta, Selasa (6/8/2013).

“Kasus kriminal semacam ini jelas bisa menimbulkan kekhawatiran orang tua yang ada di luar daerah untuk menyekolahkan anak mereka ke Yogyakarta. Hal ini pula yang membuat jumlah pendatang yang kuliah ikut menurun,” imbuhnya.

Bambang menuturkan, persoalan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi tanggung jawab

bersama, baik keluarga, masyarakat, kepolisian dan kalangan kampus. Untuk itu, pihak universitas harus bisa memonitor perkembangan mahasiswa agar tidak terjerat dunia narkoba.

“Pelaksanaan tes urine berkala bisa menjadi alternatif guna mengantisipasi narkoba masuk kampus. Dan cara ini sudah terbukti efektif karena juga menjadi metode dari Badan Narkotika Nasional (BNN),” ucapnya.

Sebelumnya, berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN)

, saat ini masyarakat Indonesia yang melakukan penyalahgunaan narkotika mencapai 4 juta jiwa. Namun, hanya sedikit yang mau direhabilitasi.

Dalam satu tahun ini, baru 18 ribu jiwa yang mau direhabilitasi. Ini tentu sangat tidak sebanding dengan jumlah penyalagunaan narkoba. Berarti hanya sekitar 0,4 persen yang mau direhabilitasi,” kata Direktur Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah (PLRIP) Deputi Bidang Rehabilitasi BNN, Brigjen Ida Oetari, Rabu 24 Juli 2013, di Kantor BNN Riau, Jalan Pepaya Pekanbaru.

 

Baca Juga :