II.3 Hukum Membaca

Istighfar

Hukum melafalkan istighfar, menurut Tolhah, bisa wajib, sunnah, makruh, bahkan haram. Wajib diucapkan saat seseorang menyadari bahwa dia telah berbuat dosa. Tentunya ucapan ini harus diikuti dengan komitmen untuk bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Istighfar hukumnya sunnah diucapkan dalam setiap suasana dan kondisi dengan alasan meneladani akhlak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Rasul saja beristighfar minimal 70 kali sehari, di riwayat lain disebutkan 100 kali per hari. Padahal beliau maksum atau sudah dijamin Allah bersih dari dosa. Bagaimana kita yang setiap hari melakukan Dosa? Tentunya harus lebih banyak beristighfar,” ujar Tholhah.[3]

Namun istighfar juga bersifat makruh ketika di lafalkan tanpa ada sanad dan Rasulullah tidak menganjurkannya. Seperti beristighfar saat berjalan di belakang jenazah ketika mengantarkannya ke liang lahat. Justru yang dianjurkan adlah beristighfar bagi mayit ketika shalat jenazah dan setelah pemakamannya. Lalu beristighfar juga bisa menjadi haram jika dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dalam QS: At-Taubah: 9: 113 yang melarang seorang mukmin beristighfar atau memohonkan ampunan untuk saudaranya yang kafir, walaupun orang tersebut merupakan kerabat dekat.

II.4 Istigfar : Sunnah, Wajib, Haram

Meskipun Istigfar sendiri hukumnya sunnah (mustahab) tapi karena sebab tertentu bisa menjadi wajib atau haram. Oleh karena itu, dilihat dari kaca mata hukum syariat Istigfar ada 3 macam:

  1. Istigfar sunnah (mustahab): mengingat bahwa Istigfar paling baiknya doa dan ibadah, maka dalam semua kondisi terkhusus pada tempat-tempat berikut disunahkan: di antara dua sujud salat, setelah membaca empat tasbih, dalam qunut khususnya qunut salat witir,  di waktu sahar, ketika mengantarkan jenazah, penguburan dan ziarah kubur dalam salat memohon hujan (Istisqa), pada bulan Ramadhan, untuk meninggalkan sebagian kebiasaan seperti Istigfar yang dilakukan sebagai kaffarah memukul-mukul kepala dan wajah.
  2. Istigfar wajib: Istigfar sebagai kaffarah wajib karena berbuat haram seperti bersumpah (dalam jidal) kurang dari 3 kali, berbuat kefasikan, atau Istigfar sebagai ganti (badal) dari kaffarah wajib bagi orang yang tidak mampu menunaikan satu pun dari kaffarah-kaffarah (membebaskan budak, berpuasa 2 bulan berturut-turut, dan memberi makan atau pakaian 60 orang fakir) hukumnya wajib. Tentu, wajibnya Istigfar yang menggatikan kaffarah Zhihar ketika pelakunya tidak mampu membayar kaffarah masih kontroversial. Begitu juga mengenai kewajiban Istigfar dalam salat mayit dan bagi pelaku ghibah untuk orang yang dighibah masih diperselisihkan.
  3. Istigfar haram: memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik, kafir -menurut nas al-Quran  dan juga orang munafik haram hukumnya.[4]