Dikukuhkan jadi Guru Besar UIN Malang, Zainuddin Tekankan Tiga Point

Dikukuhkan jadi Guru Besar UIN Malang, Zainuddin Tekankan Tiga Point

Dikukuhkan jadi Guru Besar UIN Malang, Zainuddin Tekankan Tiga Point
Dikukuhkan jadi Guru Besar UIN Malang, Zainuddin Tekankan Tiga Point

Universitas Islam Negeri (UIN) UIN Maulana Malik Ibrahim

(Maliki) Malang pada awal tahun 2020 ini mengukuhkan Guru Besar di Bidang Sosiologi Agama, yakni Prof. Dr. H.M. Zainuddin, MA.
Pengukuhan itu sendiri dilakukan oleh Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr H Abdul Haris M.Ag bertempat di Gedung Rektorat lantai 5, Rabu (8/1/2020) pagi.
Prof. Dr. H.M Zainuddin, MA merupakan dosen Filsafat dan Sosiologi Agama di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maliki Malang. Orasi ilmiah yang disampaikan berjudul tentang Pluralitas agama tantangan keberagamaan dan demokrasi di Indonesia dari konflik, intoleransi hingga terorisme.
uin guru besar 2.jpg

Prof. Dr. H.M. Zainuddin, MA ketika menemui awak media

. (Foto: Rezza Do’a/Tugumalang.id)
Menurutnya, tiga point penting perlu dilakukan seperti reorientasi pemahaman ajaran agama, depolitisasi agama dan keberpihakkan negara secara serius untuk mengantisipasi sekaligus menanggulangi permasalahan kehidupan beragama dan demokrasi Indonesia seperti konflik, intoleransi, ekstremisme dan terorisme.
“Saat ini umat beragama dihadapkan oleh problem (masalah, red) kemanusiaan yang semakin kompleks sesuai dengan perkembangan kemajuan zaman. Oleh sebab itu, umat beragama harus mampu memahami dan menjelaskan doktrin agama yang sekaligus mampu menjawab terhadap permasalahan kemanusiaan yang semakin kompleks,” ucap Zainuddin.

Saat ini, ajaran agama harus dimengerti dan dipahami benar makna secara subtansial.

uin guru besar 5.jpg
Suasana pengkuhan guru besar di UIN Maliki Malang Rabu (8/1/2020) pagi tadi.
“Ya, isu tentang kontemporer mengenai keadilan, HAM, demokrasi dan segala jenis keberpihakkan masyarakat seharusnya menjadi indikator keberhasilan dakwah agama, reorientasi pendidikan agama di sekolah terciptanya kesadaran sosial juga sangat mendesak untuk dilakukan. Agama juga harus dipahami sebagai kebenaran dari pada identitas, simbol dan politis,” terang pria kelahiran Bojonegoro tersebut.
Tak hanya itu,menurutnya dimensi agama bukan hanya bersifat teorisentris, tetapi sarat dengan dimensi sosisologis dan kosmologis. Selain itu, pemahamam terkait dengan three unity of relationship yaitu manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/