Badak Indonesia Kritis, Perlu Pendekatan Konservasi Baru

Badak Indonesia Kritis, Perlu Pendekatan Konservasi Baru

Badak Indonesia Kritis, Perlu Pendekatan Konservasi Baru
Badak Indonesia Kritis, Perlu Pendekatan Konservasi Baru

BANDUNG– Kondisi Badak Sumatera (Dicerorinus sumatranus) tak sebaik saudaranya yang hidup di Jawa. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) nasibnya lebih baik, walaupun saat ini juga dihadapi masalah dengan terbatasnya luasan habitat yang mampu mengakomodir pertumbuhan populasinya. Masalah lain yang dihadapi adalah pertumbuhan Langkap (Arenga obsitulia) yang sangat cepat sehingga menahan laju tumbuhnya pakan Badak Jawa di satu-satunya habitat mereka di Ujung Kulon.

Hal demikian, diungkapkan National Rhino Conservation

Coordinator, WWF-Indonesia, Yuyun Kurniawan, dalam release yang diterima jabarprov.go.id, Senin  (26/9).
Berdasarkan data terakhir yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ungkap Yuyun jumlah Badak Jawa di habitat terakhirnya di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sebanyak 63 individu. Sementara itu, Badak Sumatera diperkirakan hanya tersisa kurang dari 100 individu berdasarkan kesimpulan para ahli dalam pertemuan PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) pada tahun 2015 lalu.

“Untuk menyelamatkan Badak Sumatera yang semakin kritis, perlu adanya pendekatan konservasi berbasis spesies seperti yang dilakukan pada Badak Jawa”.  “Meskipun diperkirakan jumlah populasi Badak Sumatera relatif lebih besar dari populasi Badak Jawa, tetapi keberadaannya tersebar dalam sub-sub populasi yang kecil.

Dengan demikian, peluang pertumbuhan populasi Badak Sumatera relatif lebih rendah dibandingkan dengan Badak Jawa. Jika tidak dilakukan upaya-upaya proaktif untuk mengkonsolidasikan sub-sub populasi yang kecil tersebut, maka ancaman kepunahan lokal Badak Sumatera sangat mungkin terjadi,”.

Jumlah populasi Badak Jawa  pada tahun 1970 hanya ada 47 individu berdasar data WWF, kemudian  naik menjadi 51 individu pada tahun 1981.  Pada tahun 2014 dketahui jumlahnya 57 individu, dan tahun ini total 63 individu. Peningkatan jumlah individu ini membuktikan bahwa upaya konservasi berbasis spesies perlu dilakukan juga untuk meningkatkan populasi Badak Sumatera.

Sementara itu, Direktur Konservasi WWF Indonesia

, Arnold Sitompul, , dalam keterangannya memaparkan “Upaya konservasi Badak Sumatera di Indonesia harus dilakukan dengan mengedepankan inovasi baru yaitu mendorong program pembiakan semi alami yang lebih aktif.

Kondisi populasi di alam sudah sangat kritis oleh karenanya, perlindungan habitat saja tidak cukup untuk menyelamatkan Badak Sumatera”.  “Sementara itu, untuk Badak Jawa, manajemen habitat harus segera dilakukan dengan lebih agresif, melalui langkah-langkah pengendalian langkap yang merupakan spesies invasif dan sudah sangat menggangu habitat asli badak.”

Pemerintah Indonesia mencanangkan target pertumbuhan populasi sebesar 10% untuk 25 satwa dilindungi pada kurun waktu tahun 2015 – 2019, termasuk di dalamnya Badak Sumatera dan Badak Jawa.

Untuk Badak Jawa, target ini hampir terpenuhi, sayangnya

tidak untuk Badak Sumatera, yang junlah populasinya pada tahun 1974, diperkirakan antara 400-700 individu namun dlaam 10 tahun belakangan laju kehilangan populasinya mencapai 50 persen.  Bahkan di salah satu kantong populasinya di Kerinci Seblat, Badak Sumatera sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 2008.

Dalam rangka peringatan World Rhino Day, yang jatuh pada tanggal 22 September, WWF Indonesia mengadakan serangkaian acara, seperti di Ujung Kulon dan di Aceh. Di Aceh, akan mengadakan Global March for Rhino, di sekitar Mesjid Raya Baitul Rahman, Banda Aceh.

Sementara di Ujung Kulon, ujar Arnold WWF akan berpartisipasi pada  serangkaian acara yang diselenggarakan oleh Balai TNUK, dengan tema “Bersama Kita Bisa, Selamatkan Badak Jawa” yang dipusatkan di Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang.  (NR)

 

Sumber :

http://forum.detik.com/jaringan-tumbuhan-t2044969.html